Laman

Selasa, 22 Januari 2013

POSISI BK DALAM KURIKULUM 2013, SUARA ANAK NTT


ADA APA DENGAN BIMBINGAN DAN KONSELING ?


Ini suara alumni bimbingan dan konseling Undana Kupang angkatan 2007, yang tinggal di daerah terpencil dan jauh dari alat komunikasi  dan teknologi. Kalau melihat di atlas/globe, pulau kami letaknya di ujung selatan dari Indonesia, pulau Sumba namanya bernaung di bawah provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Secara keseluruhan anak dari daerah kami melanjutkan studi diperguruan tinggi adalah untuk mendapat ijasah dan pekerjaan yang  layak. Biasanya orang tua akan menyekolahkan anaknya pada Fakultas Keguruan dan Kesehatan. Dengan pikiran setelah selesai kuliah dan nantinya akan mendapatkan pekerjaan secara cepat, profesi guru dan keperawatanlah yang  menjanjikan pekerjaan  didaerah saya.
Tahun 2013 bulan Juni orang tua saya mengirim saya kepusat pemerintahan provisinsi utk melanjutkan kuliah, dan kuliah di fakultas keguruan, mau menjadi guru mata pelajaran apa tidak perna dipikirkan yang penting kuliah dibagian keguruan, saya harus mendaftar dibeberapa kampus di Kota Kupang yang tentunya semua pilihan program studi  adalah keguruan. Akhirnya saya lolos di UNDANA (Universitas Nusa Cendana), sebuah universitas Negeri. Saya lulus di program studi Bimbingan dan konseling. Hal yang aneh dan lucu adalah bahwa saya tidak perna mengenal sebelumnya program studi Bimbingan dan konseling. Saya memilih prodi bimbingan dan konseling karena peminat pada prodi tersebut sangat sedikit dengan harapan supaya bisa lulus di universitas negeri karena biaya kuliah di Universitas negeri cukup murah.
Ketika terdampar dan belajar di program studi bimbingan dan konseling saya baru memahami apa itu bimbingan dan konseling. Mulai dari sejarah masuknya BK di tahun 1960-an yang jalannya tertatih- tatih sampai pada bidang pelayanannya yang dianggap oleh banyak pihak bawah pelayanan BK dapat dilakukan oleh setiap Guru.
Perlu diketahui bawa program studi kami di UNDANA perna ditutup pada tahun 1995 dan pada tahun 2005 di buka kembali atas permintahan pemerintah setempat. Alasan di tutup adalah peminat pada prodi BP pada tahun itu sangat sedikit dan daya serap tenaga guru BK di sekolah sangat minim.
Saya berbangga ketika membaca dan membolak- balik UU No 20 tahun 2003 tentang system pendidikan Nasional dan UU RI no 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen yang mengatakan bahwa Konselor merupakan tenaga pendidik yang turut membantu dalam mencerdaskan anak bangsa, factor lain lagi adalah dengan diharapkan kepada kami yang masih aktif kuliah pada waktu itu untuk mengambil Pendidkan Profesi Konseloar (PPK) sehingga pelayanan kami  betul- betul maksimal. Dengan landasan tersebut dan dibukanya PPK itu artinya pelayanan BK merupakan pelayanan professional yang Bermartabat dan tidak semudah yang dipikirkan oleh banyak pihak serta banyak di butuhkan oleh banyak pihak. Coba anda pikirkan  apabila anda disuruh memasak, tentu anda tidak keberatan untuk melakukan karena setiap orang dapat melakukan,memang anda bias memasak tapi hasilnya belum tentu sama dengan hasil masakan tukang masak yang sudah dilatih sebelumnya. Begitupula dengan pelayanan BK, tidak  semua orang dapat melakukan,tidak menjiwai kerjanya, Roh BK tidak ada.
Kurikulum pendidkan di Indonesia terus berkembang dan berubah, posisi BK pun dalam kurikulum pasti berubah – ubah. Dalam 2 bulan terakir ada berbagai pesan yang masuk melalui telpon genggam saya semuanya meminta untuk menyuarakan supaya BK masuk dalam draf kurikulum yang sedang dirancang oleh parah ahli melalui internet. Jangankan internet listrik didaerah kami saja sering padam. Tapi akhirnya dengan segalah upaya sy berusaha untuk menyuarahkan suarah anak daerah tertinggal. Kami mempelajari bimbingan konseling bukan hanya sekedar supaya dapat kerja, akan tetapi pelayakan kami adalah pelayan yang profesianal dan bermartabat. Ibarat guru mata pelajaran membentuk PIKIRAN dan kami guru BK membentuk HATI. Saya percaya organisasi kami, baik ABKIN pusat Maupun daerah dapat menyuarahkan kata hati ini yang mewakili teman- teman dari pulau SUMBA, Pulau MARAPU, pulaunya anak PASOLA.
Sumba Barat Daya, 19 Januari 2013

Heronimus D Pingge



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar